Tsunami Datang, Pergi, dan Dilupakan Detail

Tsunami

Rabu, 24 April 2019


Menjulang 18 meter, bangunan bercat krem yang nyaris tanpa sekat jadi tampak istimewa di dekat gerbang Gampong atau Kampung Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Aceh. Puluhan pilar berdiameter hampir 1 meter yang mulai dipenuhi coretan-coretan tulisan tangan membuat bangunan berlantai empat itu terlihat paling kokoh dibanding bangunan-bangunan di sekitarnya.

Gedung yang selesai dibangun pada 2007 itu dikenal masyarakat setempat dengan sebutan escape building. Desainnya dibuat dengan bantuan konsultan asal Jepang dan menurut teori mampu bertahan dari goyangan gempa berkekuatan 9-10 skala Richter. Lantai paling atas dibiarkan terbuka dan tersedia helipad untuk pendaratan helikopter. Dari lantai ini tampak gedung penyelamatan lain yang berjarak

 

 

Selain di Lambung dan Deah Glumpang, gedung penyelamatan bantuan Jepang didirikan di Gampong Alue Deah Teungoh. Deah Glumpang dan Alue Deah Teungoh tak begitu jauh dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Sementara itu, di Kota Banda Aceh, gedung yang juga dirancang sebagai tempat evakuasi terdapat di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah dan Museum Tsunami Aceh.

"Masyarakat Kampung (Lambung) sudah paham, kalau ada gempa cukup kuat, kami langsung kumpul di sana," ujar seorang penduduk Lambung, Aman Muzakir,  kepada detikX, Minggu pekan lalu seraya menunjuk gedung dengan luas total 1.400 meter persegi itu. Pendirian bangunan tersebut didanai pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation System (JICS). Muzakir mengaku sejumlah prosedur langkah penyelamatan sudah disimulasikan berulang-ulang. "Termasuk mengikuti rambu-rambu penanda arah evakuasi."